Ada yang lain lhooo

Sabtu, 02 Februari 2013

LOGIKA, ETIKA DAN ESTETIKA DALAM ILMU


1.     Logika
Secara etimologis logika berasal dari bahasa Yunani logos yang berarti “kata atau pikiran”. Namun pengertian dasarnya sering disebut sebagai ilmu berkata-kata atau berpikir benar, bukan tepat melainkan benar.
      Menurut Aristoteles logika adalah bagian filsafat yang mempersoalkan bentuk susunan atau cara penyusun pikiran. Aristoteles sangat menaruh perhatian pada bagian filsafat ini, bahkan menganggapnya sebagai ilmu pendahulu filsafat. Ia di anggap sebagai bapak logika terutama dengan buku yang disusun murid-muridnya yang berjudul “organon” atau instrumen tentang logika formal.
      Logika demikian bersifat alami atau disebut logika naturalis (natural logics) yang berdasarkan kodrat atau fitrahnya saja misalnya digunakan untuk membedakan mana yang bisa dimakan atau tidak bisa dimakan. Logika buatan atau hasil pengemban yang disebut logika artifisial (artificial logics) merupakan cara membedakannya berdasarlkan laboratorium dengan cara menemukan unsur apa yang berada di dalam tanaman sehingga dapat dimakan atau tidak bisa dimakan.
Jenis-jenis logika ada 2 yaitu :



a.       Logika induktif merupakan cara berpikir dimana di tarik suatau kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Misalnya kita mempunyai fakta bahwa kambing mempunyai fakta, gajah mempunyai mata, demikian juga dengan singa, kucing, dan berbagai binatang lainnya. Dari kenyataan ini kita dapat menarik kesimpulan umum yakni semua binatang mempunyai mata.
b.      Logika deduktif merupakan cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penariakan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogismus ini disebut premis yang kemudian dapat dibedakan sebagai premis mayor dan premis minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang di dapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut.
Contoh :
Semua makhluk mempunyai mata                  (premis mayor)
Si Polan adalah seorang makhluk                   (premis minor)
Jadi SiPolan mempunyai mata                        (kesimpulan)
Kesimpulan yang diambil bahwa Si Polan mempunyai mata adalah sah menurut penalaran deduktif, sebab kesimpulan ini ditarik secara logis dari dua premis yang mendukungnya.

2.     Etika
Etika dalam bahasa Yunani, etos artinya kebiasaan, habit atau custom. Maksudnya hampir tidak ada orang yang tidak memiliki kebiasaan baik atau buruk. Oleh karena itu istilah etis dan tidak etis dinilai kurang tepat. Adapun istilah yang lebih tepat adalah etika baik dan etika jahat.
Etika adalah bagian filsafat nilai dan penilaian yang membicarakan perilaku seseorang dari sudut baik dan jahat. Semua perilaku mempunyai nilai, jadi tidak benar suatu perilaku dikatakan tidak etis dan etis. Lebih tepatnya adalah perilaku beretika baik atau perilaku beretika tidak baik, sejalan dengan perkembangan penggunaan bahasa yang berlaku sekarang. Istilah etis dan tidak etis, tidak baik untuk hal yang sama. Demikian juga etis baik dan baik dan etis tidak baik. Dalam hal perilaku digunakan istilah baik dan jahat untuk etika karena perbuatan manusia yang tidak baik berarti merusak sedangkan perbuatan yang baik berarti membangun.

2.1  Jenis Etika


1.     Etika Filosofis
Etika filosofis secara harfiah dapat dikatakan sebagai etika yang berasal dari kegiatan berfilsafat atau berpikir, yang dilakukan oleh manusia. Karena itu, etika sebenarnya adalah bagian dari filsafat; etika lahir dari filsafat. Etika termasuk dalam filsafat, karena itu berbicara etika tidak dapat dilepaskan dari filsafat] Karena itu, bila ingin mengetahui unsur-unsur etika maka kita harus bertanya juga mengenai unsur-unsur filsafat. Berikut akan dijelaskan dua sifat etika:
1.      Non-empiris Filsafat digolongkan sebagai ilmu non-empiris. Ilmu empiris adalah ilmu yang didasarkan pada fakta atau yang kongkret. Namun filsafat tidaklah demikian, filsafat berusaha melampaui yang kongkret dengan seolah-olah menanyakan apa di balik gejala-gejala kongkret. Demikian pula dengan etika. Etika tidak hanya berhenti pada apa yang kongkret yang secara faktual dilakukan, tetapi bertanya tentang apa yang seharusnya dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
2.      Praktis Cabang-cabang filsafat berbicara mengenai sesuatu “yang ada”. Misalnya filsafat hukum mempelajari apa itu hukum. Akan tetapi etika tidak terbatas pada itu, melainkan bertanya tentang “apa yang harus dilakukan”. Dengan demikian etika sebagai cabang filsafat bersifat praktis karena langsung berhubungan dengan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan manusia. Tetapi ingat bahwa etika bukan praktis dalam arti menyajikan resep-resep siap pakai. Etika tidak bersifat teknis melainkan reflektif. Maksudnya etika hanya menganalisis tema-tema pokok seperti hati nurani, kebebasan, hak dan kewajiban, dsb, sambil melihat teori-teori etika masa lalu untuk menyelidiki kekuatan dan kelemahannya. Diharapakan kita mampu menyusun sendiri argumentasi yang tahan uji.

2.      Etika Teologis           
Ada dua hal yang perlu diingat berkaitan dengan etika teologis. Pertama, etika teologis bukan hanya milik agama tertentu, melainkan setiap agama dapat memiliki etika teologisnya masing-masing. Kedua, etika teologis merupakan bagian dari etika secara umum, karena itu banyak unsur-unsur di dalamnya yang terdapat dalam etika secara umum, dan dapat dimengerti setelah memahami etika secara umum.
Secara umum, etika teologis dapat didefinisikan sebagai etika yang bertitik tolak dari presuposisi-presuposisi teologis. Definisi tersebut menjadi kriteria pembeda antara etika filosofis dan etika teologis. Di dalam etika Kristen, misalnya, etika teologis adalah etika yang bertitik tolak dari presuposisi-presuposisi tentang Allah atau Yang Ilahi, serta memandang kesusilaan bersumber dari dalam kepercayaan terhadap Allah atau Yang Ilahi Karena itu, etika teologis disebut juga oleh Jongeneel sebagai etika transenden dan etika teosentris Etika teologis Kristen memiliki objek yang sama dengan etika secara umum, yaitu tingkah laku manusia. Akan tetapi, tujuan yang hendak dicapainya sedikit berbeda, yaitu mencari apa yang seharusnya dilakukan manusia, dalam hal baik atau buruk, sesuai dengan kehendak Allah.
Setiap agama dapat memiliki etika teologisnya yang unik berdasarkan apa yang diyakini dan menjadi sistem nilai-nilai yang dianutnya. Dalam hal ini, antara agama yang satu dengan yang lain dapat memiliki perbedaan di dalam merumuskan etika teologisnya.

3.     Estetika
Estetika adalah bagian filsafat tentang nilai dan penilaian yang memandang karya manusia dari sudut indah dan jelek. Secara umum estetika disebut sebagai kajian filsafati mengenai pengindraan atau persepsi yang menimbulkan rasa senang dan nyaman pada suatu pihak, rasa tidak senang dan tidak nyaman pada pihak lainnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa ada baiknya bagi kita untuk menghargai pepatah “De gustibus non disputdum” yang artinya meskipun tidak mutlak, tidak untuk segala hal. Secara fisual dan imajinasi estetika disebut juga kajian mengenai keindahan atau teori tentang cita rasa, kritik dalam kesenian kreatif serta pementasan. Tokoh paling terkenal dalam bidang ini adalah Alexander Baumgarten (1714-1762) dalam disertasinya pada 1735 yang justru dianggap awal diwacanakannya estetika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar