Ada yang lain lhooo

Sabtu, 02 Februari 2013

DASAR-DASAR FILSAFAT DAN HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN ILMU


1.     PENGERTIAN FILSAFAT SECARA ETIMOLOGIS DAN SEMANTIK
Oleh : Jeffy dan Silvi
Filsafat mempunyai pengertian/ definisi yang bermacam-macam dari para ahli maupun filosof. Contoh-contohnya adalah seperti Soetopo (2004:1) menarik pengertian filsafat dari dua pengertian dasar, yaitu pengertian etimologis dan pengertian semantik.
Pengertian etimologis filsafat berasal dari kata “filos” yang berarti cinta dan “sofia” yang berarti kebijakan, kebijaksanaan, dan kebenaran. Dengan demikian kata filsafat berarti cinta terhadap kebijakan dan kebijaksanaan. Sedangkan, pengertian semantik filsafat adalah pengetahuan yang mempelajari hakikat segala sarwa yang ada dan yang mungkin ada sedalam-dalamnya yang dilakukan secara radikal dan menyeluruh.
Berdasarkan pengertian itu, berarti orang yang belajar filsafat adalah orang yang cinta akan kebajikan, kebijaksanaan, dan kebenaran. Kajiannya dilakukan dengan berusaha mengetahui suatu hal sedalam-dalamnya, sehingga sampai pada hakikat yang sebenar-benarnya, sampai pada seinti-intinya. Orang yang ahli dalam filsafat disebut filosof atau ada yang menyebutnya filsuf. Bidang kajian filsafat sangat luas, yaitu segala sarwa atau segala hal yang ada, bahkan yang mungkin ada. Alat utama untuk mengkaji sarwa itu adalah pikiran atau nalar. Pikiran atau nalar kita bisa menjelajah ke hal-hal yang ada dan yang mungkin ada.

2.     DASAR-DASAR FILSAFAT
Oleh : Ardie
Dasar-dasar filsafat terdapat tiga, yaitu penalaran, logika, dan sumber pengetahuan. Penalaran yang secara benar dan sungguh-sungguh hanya dimiliki oleh manusia. Manusia mampu berpikir lebih dalam, lebih jelas. Manusia mampu mengerti apa dan mengapa gejala-gejala yang terjadi di sekitarnya. Manusia bernalar, merenung, dan berpikir di alam sadar mereka. Untuk itulah penalaran termasuk dasar-dasar filsafat.
Dasar filsafat yang kedua adalah logika. Logika didasarkan pada cara berpikir manusia yang sesuai dengan keadaan tertentu. Logika tidak pernah mengatakan salah. Karena logika sesuai dengan keadaan yang ada di sekitar manusia. 
Dasar filsafat yang ketiga adalah sumber pengetahuan. Hipotetis yang kita hasilkan setelah penalaran harus kita kaji secara benar. Sumber pengetahuan didapat dari pikiran rasional dan pengalaman empirik manusia. Kedua hal ini harus seimbang dan harus saling memadai. Pikiran rasional yang idealisme dibutuhkan sebagai teori pendukung. Sedangkan pengalaman yang empirik dibutuhkan untuk mendukung pemikiran-pemikiran yang muncul.

3.     KONSEP DASAR FILSAFAT
Oleh : Munic dan Nurul
3.1   Konsep Empirisme
Salah satu konsep mendasar tentang filsafat ilmu adalah empirisme atau ketergantungan pada bukti. Empirisme adalah cara pandang bahwa ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman yang kita alami selama hidup kita. Di sini, pernyataan ilmiah berarti harus berdasarkan dari pengamatan atau pengalaman. Oleh karena itu empirisme adalah aliran yang menjadikan pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Aliran ini beranggapan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dengan cara observasi atau pengindraan kata seorang penganut empirisme. Kata empiris berasal dari kata yunani “empiris” yang berarti pengalaman indrawi. Aliran ini beranggapan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dengan cara observasi atau pengindraan. Pengalaman merupakan faktor fundamental dalam pengetahuan,ia merupakan sumber dari pengetahuan manusia.
Hipotesa ilmiah dikembangkan dan diuji dengan metode empiris, melalui berbagai pengamatan dan eksperimentasi. Setelah pengamatan dan eksperimentasi ini dapat selalu diulang dan mendapatkan hasil yang konsisten, hasil ini dapat dianggap sebagai bukti yang dapat digunakan untuk mengembangkan teori-teori yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena alam.
John Lucke,bapak empirisme Britan mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman indrawi. Menurut Locke seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta membandingkan ide-ide yang diperoleh dari pengindraan dan refleksi yang pertama  dan sederhana tersebut.
Ia   memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan yang secara pasif akan menerima hasil-hasil pengindraan tersebut. Hal ini berarti bahwa semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali dan apa yang tidak dapat dilacak kembali bukanlah termasuk ilmu pengetahuan.
Pengalaman adalah merupakan akibat suatu objek yang merangsang alat indrawi, yang dengan demikian ini menimbulkan rangsangan syaraf yang kemudian dibawa ke otak dan di dalam otak rangsangan tersebut dipahami dan dicerna oleh otak sebagaimana adanya,atau berdasarkan atas rangsangan tersebut dibentuklah tanggapan-tanggapan mengenai objek yang telah merangsang alat indrawi.

3.2   Konsep Falsiabilitas
Falsifiabilitas atau refutabilitas adalah kemungkinan bahwa sebuah pernyataan dapat difalsifikasi atau dibuktikan salah melalui observasi atau uji coba fisik. Sesuatu yang bisa difalsifikasi bukan berarti itu salah, namun berarti bahwa jika pernyataan tersebut salah, maka kesalahannya dapat ditunjukkan.
Klaim bahwa "tidak ada manusia yang hidup selamanya" tidak dapat difalsifikasi karena tidak mungkin untuk dibuktikan salah. Dalam teori, seseorang harus mengamati seorang manusia hidup selamanya untuk memfalsifikasi klaim tersebut. Di sisi lain, "semua manusia hidup selamanya" dapat difalsifikasi karena kematian satu orang manusia dapat membuktikan pernyataan tersebut salah (tidak meliputi pernyataan metafisis mengenai jiwa, yang tidak dapat difalsifikasi).
Falsifiabilitas, terutama testabilitas, merupakan konsep penting dalam ilmu pengetahuan dan filsafat ilmu pengetahuan. Konsep ini dipopulerkan oleh Karl Popper. Popper menyatakan bahwa hipotesis, dalil, atau teori, itu ilmiah apabila bisa difalsifikasi. Falsifiabilitas merupakan kriteria penting (tetapi tidak cukup) untuk gagasan-gagasan ilmiah. Ia juga menyatakan bahwa pernyataan yang tak bisa difalsifikasi itu tidak ilmiah.
Menurut Popper teori yang melatar belakangi fakta-fakta pengamatan adalah titik permulaan ilmu pengetahuan dan teori diciptakan manusia sebagai jawaban atas masalah pengetahuan tertentu berdasarkan rasionya sehingga teori tidak lain hanyalah pendugaan dan pengiraan dan tidak pernah benar secara mutlak sehingga perlu dilakukan pengujian yang secermat-cermatnya agar diketahukan ketidakbenarannya.
Ilmu pengetahuan hanya dapat berkembang apabila teori yang diciptakannya itu berhasil ditentukan ketidakbenarannya. Dan Popper mengganti istilah verifikasi dengan falsifikasi.
Keterbukaan untuk diuji atau falsifiabilitas sebagai tolok ukur mempunyai implikasi bahwa ilmu pengetahuan dapat berkembang dan selalu dapat diperbaiki, dan pengetahuan yang tidak terbuka untuk diuji tidak ada harapan untuk berkembang, dan sifatnya biasanya dogmatis serta tidak dapat digolongkan sebagai pengetahuan ilmiah.
4.     CABANG-CABANG FILSAFAT
Oleh : Desy
Banyak ahli filsafat masih berselisih paham dalam memberikan pengertian tentang cabang-cabang filsafat, bahkan hingga saat ini. Cabang-cabang filsafat, dipahami sebagai pembagian filsafat berdasar obyek yang dikaji.
Pembagian dalam cabang-cabang filsafat ini dimaksudkan untuk mengelompokkan pemikiran filsafat agar bisa tersistematisasi bagus dan mudah dipahami.
Secara garis besar, obyek kajian dalam cabang-cabang filsafat meliputi tentang yang ada, alam semesta, metode dalam mendapatkan kebenaran dari suatu ilmu pengetahuan, dan tentang tata nilai. Keempat bidang ini, dijadikan dasar klasifikasi bagi pembagian cabang-cabang filsafat, yang paling populer.
4.1   Ontologi
Ontologi adalah pemikiran filsafat yang mengkaji tentang realitas dunia. Perdebatan filsafat paling sengit berada pada wilayah ini. Para ahli filsafat berdebat mengenai tema apakah “yang ada” itu.
Apakah “yang ada” itu bersifat ide ataukah materi? Perdebatan akan semakin seru manakala konsep tentang “yang ada” ini dibenturkan pada konsep keabadian.
Kaum idealisme berpendapat bahwa "yang ada" itu adalah ide, dan kenyataan atau realitas adalah bayangan dari ide. Ide juga dipahami sebagai roh atau spirit yang identik dengan keabadian, dan tidak akan pernah menjadi “tiada”.
“Yang ada” akan selalu ada, dan tidak akan pernah menjadi “tiada”. Kalau “yang ada” itu suatu saat menjadi “tiada”, maka keberadaan dari “yang ada” seperti ini adalah semu.
Sementara itu, penganut paham materialisme berpendapat bahwa “yang ada” itu yang memiliki materi dan menempati dimensi ruang dan waktu. Di luar pengertian ini, dianggap “tidak ada”.
Perubahan juga menjadi tema penting yang dikaji oleh penganut paham ini, yang akhirnya mengilhami teori relativitas Einstein. Bahwa sesuatu “ada” berdasar batasan “ruang” dan “waktu”, dengan demikian “yang ada” itu bersifat relatif, bukan absolut.
Dalam pengertiannya yang seperti ini, filsafat materialisme tidak ada hubungannya dengan pengertian materialistis seperti yang banyak kita jumpai, yang berkonotasi pada pengejaran kehidupan yang mewah atau mata duitan.

4.2   Kosmologi
Ilmu filsafat ini berbicara mengenai asal mula alam semesta dan sifat-sifat hakiki yang menyertainya. Pendapat paling mengejutkan tentang asal mula alam semesta ini, dikemukakan oleh Stephen Hawking yang mengeluarkan teori bahwa alam semesta terjadi dari dentuman besar (big bang).
Hingga saat ini, pendapat Hawking dipercaya sebagai suatu teori yang mendekati kebenaran.
Pemikiran Kosmologi ini telah memberi kontribusi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan alam. Karena obyek kajian dari kosmologi adalah segala sesuatu yang ada di alam semesta berikut gejala-gejalanya. Dari sini berkembang ilmu geologi, biologi, fisika, dan lain sebagainya.

4.3   Epistemologi
Epistemologi adalah ilmu yang menyelidiki tentang bagaimana suatu ilmu pengetahuan itu didapat dan bagaimana suatu ilmu pengetahuan itu bisa dikatakan benar. Dari cabang filsafat ini kemudian berkembang aliran rasionalisme yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan didapat berdasar daya nalar manusia.
Selain rasionalisme, cabang filsafat ini juga melahirkan aliran empirisme yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan didapat dari pengalaman. Selanjutnya, pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme ini coba didamaikan oleh Immanuel Kant dengan menawarkan teori kritisisme.
Selain ketiga aliran di atas, cabang filsafat ini juga melahirkan pemikiran yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan didapat dari intuisi manusia. Aliran teori ini sangat mewarnai corak pemikiran filsafat timur, dan jadi faktor yang secara tegas membedakannya dengan filsafat barat.

 4.4 Axiologi
Axiologi adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai tata nilai yang berlaku di masyarakat. Dari cabang filsafat ini melahirkan ilmu logika yang membahas tentang  “yang benar dan yang salah”.
Selain itu, filsafat ini juga membahas etika berbicara tentang yang baik dan “yang buruk” serta estetika yang berkutat tentang keindahan dan mencoba merunut konsepsi tentang  “yang indah dan yang jelek”. Axiologi juga sering disebut dengan filsafat nilai.


5.     PENGERTIAN DAN DEFINISI ILMU MENURUT PARA AHLI
Oleh : Wahyu
Bila ada istilah yang mengatakan bahwa buku adalah jendela, maka ilmu juga bisa diartikan sebagai penerang dunia. Karena ibarat hidup tanpa ilmu maka kita akan hidup dalam sebuah kegelapan yang tanpa berujung. Oleh karena itu penting bagi kita untuk selalu mencari dan memperdalam ilmu supaya kita bias mengikuti perkembangan jaman tanpa dihantui rasa ketakutan karena kedangkalan ilmu yang kita miliki.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi ilmu menurut beberapa ahli:
v  M. IZUDDIN TAUFIQ
Ilmu adalah penelusuran data atau informasi melalui pengamatan, pengkajian dan eksperimen, dengan tujuan menetapkan hakikat, landasan dasar ataupun asal-usulnya.
v  THOMAS KUHN
Ilmu adalah himpunan aktivitas yang menghasilkan banyak penemuan, baik dalam bentuk penolakan maupun pengembangannya.
v  Dr. MAURICE BUCAILLE
Ilmu adalah kunci untuk mengungkapkan segala hal, baik dalam jangka waktu yang lama maupun sebentar.
v  NS. ASMADI
Ilmu merupakan sekumpulan pengetahuan yang padat dan proses mengetahui melalui penyelidikan yang sistematis dan terkendali (metode ilmiah).
v  POESPOPRODJO
Ilmu adalah proses perbaikan diri secara bersinambungan yang meliputi perkembangan teori dan uji empiris.
v  MINTO RAHAYU
Ilmu adalah pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dan berlaku umum, sedangkan pengetahuan adalah pengalaman yang bersifat pribadi/ kelompok dan belum disusun secara sistematis karena belum dicoba dan diuji.
v  POPPER
Ilmu adalah tetap dalam keseluruhan dan hanya mungkin direorganisasi.
v  DR. H. M. GADE
Ilmu adalah falsafah, yaitu hasil pemikiran tentang batas-batas kemungkinan kemampuan manusia.
v  FRANCIS BACON
Ilmu adalah satu-satunya pengetahuan yang valid dan hanya fakta-fakta yang dapat menjadi objek pengetahuan.
v  CHARLES SINGER
Ilmu adalah suatu proses yang membuat pengetahuan (science is the process which makes knowledge).

6.     PENGERTIAN ILMU SECARA UMUM
Oleh : Elly
Pengertian ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu. Itu jika ditinjau dari KBBI. Jika ditinjau dalam bahasa asing, ambil contoh bahasa inggris.
Ilmu yang disebut sebagai science mempunyai arti the study of the structure and behavior of the physical and natural world and society, especially through observation and experiment. Itu menurut kamus oxford yang jika diterjemahkan menjadi studi tentang struktur dan perilaku dari dunia fisik dan alam dan masyarakat, khususnya melalui pengamatan dan percobaan.
Tampaknya kedua pengertian di atas yakni pengertian ilmu dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa inggris memiliki persamaan.
Kata ilmu dalam bahasa Arab "ilm" yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial, dan sebagainya.
Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berpikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.

7.     HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN ILMU
Oleh : Ruly
Apakah hubungan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan? Oleh Louis Kattsoff dikatakan: Bahasa yang pakai dalam filsafat dan ilmu pengetahuan dalam beberapa hal saling melengkapi. Hanya saja bahasa yang dipakai dalam filsafat mencoba untuk berbicara mengenai ilmu pengetahuan, dan bukanya di dalam ilmu pengetahuan. Namun, apa yang harus dikatakan oleh seorang ilmuwan mungkin penting pula bagi seorang filsuf.
Pada bagian lain dikatakan: Filsafat dalam usahanya mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pokok yang kita ajukan harus memperhatikan hasil-hasil ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dalam usahanya menemukan rahasia alam kodrat haruslah mengetahui anggapan kefilsafatan mengenai alam kodrat tersebut. Filsafat mempersoalkan istilah-istilah terpokok dari ilmu pengetahuan dengan suatu cara yang berada di luar tujuan dan metode ilmu pengetahuan.
Dalam hubungan ini Harold H. Titus menerangkan: Ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah besar materi yang faktual dan deskriptif, yang sangat perlu dalam pembinaan suatu filsafat. Banyak ilmuwan yang juga filsuf. Para filsuf terlatih di dalam metode ilmiah, dan sering pula menuntut minat khusus dalam beberapa ilmu sebagai berikut:
1)      Historis, mula-mula filsafat identik dengan ilmu pengetahuan, sebagaimana juga filsuf identik dengan ilmuwan.
2)      Objek material ilmu adalah alam dan manusia. Sedangkan objek material filsafat adalah alam, manusia dan ketuhanan.



8.     DAFTAR RUJUKAN

Sumantri, Jujun S. FILSAFAT ILMU SEBUAH PENGANTAR POPULER. Jakarta: Sinar Harapan. 1995.
Sumantri, Jujun S. ILMU DALAM PERSPEKTIF. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2001.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar